Makam Syech Maulana Malik Ibrahim | Gresik, Jawa Timur
Matahari mencapai puncak ketinggian. Panasnya menyengat kulitku. Dahaga yang kurasakan mencipta angan segelas es kelapa muda. Di sisi jalan Malik Ibrahim, Desa Gapura Wetan, Gresik berjejer gerobak para pedagang. Tapi tak satupun yang menjual minuman segar. Aku berprasangka, mungkin belum saatnya meneguk minuman. Karena itu aku menyusul teman-teman yang sudah memasuki Pintu Gerbang Makam Maulana Malik Ibrahim.
Teman-teman langsung menuju makam utama. Sedangkan aku harus menjalankan tugas, mengisi buku tamu di kantor pengelola makam. Selepas itu, aku langsung merapat bersama mereka yang sudah siap membaca untaian doa ziarah.
Kuperhatikan ketiga makam yang berjejer dalam satu lindungan pagar bercat hijau. Di sebelah Barat adalah makam wali yang menjadi salah satu tujuan kami, Maulana Malik Ibrahim. Di sebelahnya, mengarah ke Timur adalah makam sang istri, bernama Siti Fatimah dan makam sang putra, Maulana Moqfaroh. Pada bingkai nisan Maulana Malik Ibrahim, terdapat pahatan ayat suci Al-Qur’an. Diawali dengan surat al-Baqarah ayat 225 yang lebih popular disebut ayat kursi, lalu surat Ali Imran ayat 185, Al-Rahman ayat 26-27, dan diakhiri dengan surat At-Taubah ayat 21-22. Menurut beberapa literatur yang kubaca, nisan tersebut diduga berasal dari Cambay, Gujarat dan diduga pula persembahan Sultan dari Samudra Pasai sebagai tanda hormat atas keagungan sang Maulana.
Pada makam tokoh walisongo yang wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 822 Hijriah (1419 Masehi), terdapat pula sebuah teks bertuliskan :
“Ini adalah makam almarhum seorang yang dapat diharapkan mendapat pengampunan Allah dan yang mengharapkan kepada rahmat Tuhannya Yang Maha Luhur, guru para pangeran, dan sebagai tongkat sekalian para sultan dan Wasir, siraman bagi kaum fakir dan miskin. Yang berbahagia dan syahir penguasa dan urusan agama : Malik Ibrahim yang terkenal dengan kebaikannya. Semoga Allah melimpahkan rahmad dan ridho-Nya dan semoga menempatkannya di surga.”
Selesai berziarah, kami berpencar. Sebagian berkeliling kompleks makam, sedangkan aku dan PS menuju makam lainnya, Maulana Magribi dan Maulana Ishaq. Kami duduk berhadapan di tengah antara kedua makam. PS memimpin doa ziarah sedangkan aku mengikutinya. Suasana kompleks makam yang hening, jauh dari hingar bingar kota, menciptakan renungan : Siapakah sebenarnya sosok Maulana Malik Ibrahim? Apakah ia benar-benar seorang wali pemula? Apakah ia ayah dari Syeh Ali Rahmatullah yang bergelar Sunan Ampel? Lalu siapa yang dimakamkan di sebelah Timur dari sisi makamnya yang disebut sebagai putra sang Maulana Malik Ibrahim bernama Moqfaroh? Inilah renungan yang tercipta dan tak membuat ekspedisi ini berakhir di tepi makam.
Tak kutemukan kepastian kapan beliau menginjakkan kaki di tanah Jawa. Ada yang menyebut tahun 1392, ada pula 1401, dan 1404 Masehi. Mengapa ini menjadi penting bagiku?
Menurut anggapan banyak orang, Maulana Malik Ibrahim adalah wali pemula. Ialah generasi pertama walisongo. Padahal yang kuteliti dari beberapa literatur, istilah walisongo baru muncul pada masa Sunan Ampel, setelah sebelumnya mendirikan Bhayangkare Ishlah, beberapa tahun sebelum berdirinya Kesultanan Demak. Bahkan ada juga anggapan walisongo hanyalah istilah yang dikarya para pujangga Mataram.
Terlepas apakah Syech Maulana Malik Ibrahim adalah bagian dari walisongo atau bukan, yang jelas kehadirannya menjadi bukti sejarah bahwa Islam telah berkembang di Nusantara sebelum era Walisongo itu berperan. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis tentang hal ini di Majalah Intisari tahun 2006. “Makam Islam di Tralaya” merupakan bukti bahwa pada masa Majapahit dipimpin oleh Hayam Wuruk, sudah terdapat penganut muslim di kalangan kerajaan. Makam di kompleks Majapahit tersebut tertulis tahun kematian dari 1376, 1380, 1418, 1407, 1427, 1467, 1475, 1467, dan 1469. Dan pada beberapa nisan tertulis huruf arab yang diperkirakan sebagai kalimat syahadat.
Bagiku tak cukup penting memposisikan Maulana Malik Ibrahim sebagai bagian dari walisongo atau bukan, bagian dari pemula para wali atau bukan. Cukuplah Maulana Malik Ibrahim sebagai seorang pelaku suluk (sufi) yang menjadi guru bagi berbagai kalangan. Mulai dari kalangan rakyat jelata yang fakir dan miskin, hingga kalangan para petinggi kerajaan. Ia telah berperan pada masanya. Ia menjalankan kehidupannya dengan kehormatan yang didapatkannya dari segala lapisan masyarakat karena ilmunya. Ia adalah sosok guru bagi semua kasta, yang saat itu masih menjadi strata kehidupan di tanah Jawa.

makam ayah sunan ampel di Tuban
Perenunganku belum selesai. Perjalanan kami berlanjut menuju makam Sunan Ampel di Surabaya. Kembali aku teringat tentang anggapan bahwa Maulana Malik Ibrahim adalah ayah Sunan Ampel. Jika memang beliau sang ayah, lalu bagaimana dengan makam Syech Ibrahim Asy-Syamarkand yang dimakamkan di Gisik, Tuban? Pada makam tersebut ditulis bahwa beliau adalah ayah Sunan Ampel.
Jika merunut pada kisah tradisional, kedatangan Sunan Ampel ke tanah Jawa adalah bersama ayahnya Ibrahim Asy-Syamarkand (dijawakan menjadi Asmoroqondi), kakaknya (Syech Ali Murtadho), dan sahabatnya (Abu Hurairah). Rombongan itu singgah di Tuban hingga sang ayah wafat dan dimakamkan di tempat tersebut. Hingga kini banyak peziarah yang mendatangi makam ayah Sunan Ampel itu. Kisah tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 1443 M saat bibi Sunan Ampel (Putri Darawati) menjadi permaisuri Sri Kertawijaya, raja Majapahit. Jika sejarah kedatangan Sunan Ampel itu benar terjadi pada 1443 (sementara menurut versi lain 1446) berarti Maulana Malik Ibrahim yang dimakamkan di Gresik sudah 24 tahun sebelumnya wafat. Berdasarkan penelusuran tahun inilah aku menyimpulkan bahwa sang Maulana Malik Ibrahim adalah bukan Ayah dari Sunan Ampel sebagaimana tertera dalam berbagai literatur dan bahkan menjadi referensi di Wikipedia. Wallahu a’lam.
Rupanya kita memang mesti melakukan kembali penelusuran sejarah yang rumit. Tak cukup jika kita hanya mengacu pada peninggalan karya babad yang umumnya bercampur antara fakta dan legenda. Perlu tinjauan arkeologis, epigrafis, dan mungkin intuitif.
Tunggu Laporan Selanjutnya : Sunan Ampel Pelopor Walisongo